SEJARAH CANDI BRAHU TROWULAN MOJOKERTO
Candi Brahu terletak di Pedukuhan Jambu Mente, Desa Bejijong, Kecamatan
Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Tepat di depan kantor Suaka
Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur yang terletak di jalan raya
Mojokerto - Jombang, terdapat jalan masuk ke arah utara yang agak sempit. Candi Brahu terletak di sisi kanan
jalan kecil tersebut, sekitar 1,8 km dari jalan raya. Denah bangunan bujur
sangkar dan arah hadapnya ke barat dengan azimuth 227°. Ukuran bangunan :
tinggi 25,7 m, serta lebar 20,7 m.
A. STRUKTUR BANGUNAN CANDI BRAHU
Struktur bangunan Candi Brahu
terdiri dari kaki candi, tubuh candi dan atap candi. Kaki candi terdiri dari
bingkai bawah, tubuh candi serta bingkai atas.Bingkai tersebut terdiri dari
pelipit rata, sisi genta dan setengah lingkaran.Dari penelitian yang terdapat
pada kaki candi diketahui terdapat susunan bata yang strukturnya terpisah,
diduga sebagai kaki candi yang dibangun pada masa sebelumnya.Ukuran kaki candi
lama ini 17 x 17 m. Dengan demikian struktur kaki yang sekarang merupakan
tambahan dari bangunan sebelumnya. Kaki Candi
Brahu terdiri dari dua tingkat dengan selasarnya serta tangga di sisi
barat yang belum diketahui bentuknya dengan jelas. Bagian tubuh Candi Brahu sebagian merupakan susunan
bata baru yang dipasang pada masa pemerintahan Belanda.
Bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi, melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuh candi melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi. Atap candi juga tidak berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar. Candi Brahu dibangun dari bata yang direkatkan satu sama lain dengan sistem gosok. Sebagai bahan perbandingan, ciri-ciri candi Jawa Timur adalah bentuk bangunannya ramping, atapnya merupakan perpaduan tingkatan, puncaknya berbentuk kubus, makara tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala, reliefnya timbul sedikit saja dan lukisanya simbolis menyerupai wayang kulit, letak candi di belakang halaman, kebanyakan menghadap ke barat, sebagian besar terbuat dari batu bata merah. Penggunaan batu bata merah disebabkan karena faktor lingkungan yang kurang mendukung dengan tidak adanya batu andesit seperti yang digunakan pada candi-candi di Jawa Tengah.
Denah Candi Brahu berukuran 10 x
10,5 m dengan tinggi 9,6 m. Di dalamnya terdapat bilik berukuran 4x4 m, namun
kondisi lantainya telah rusak. Pada waktu pembongkaran struktur bata pada bilik
ini ditemukan sisa - sisa arang yang kemudian dianalisa di Pusat Penelitian
Tenaga Atom Nasional (BATAN) di Yogyakarta.Hasil analisa menunjukkan bahwa
pertanggalan radio karbon arang Candi Brahu berasal dari masa antara tahun 1410
hingga 1646 masehi.
Atap Candi Brahu tingginya kurang lebih 6 m. Pada sudut tenggara atap
terdapat sisa hiasan berdenah lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa.
Berdasarkan gaya bangunan serta profil sisa hiasan yang berdenah lingkaran pada
atap candi yang diduga sebagai bentuk stupa, para ahli menduga bahwa Candi Brahu bersifat Budhis. Selain
itu diperkirakan Candi Brahu
umurnya lebih tua dibandingkan dengan candi-candi yang ada di situs Trowulan.
Dasar dugaan ini adalah prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan tidak jauh
dari Candi Brahu, kira-kira
sekitar 45 m di sebelah barat Candi
Brahu. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Mpu Sindok pada tahun 861
Saka 939 M, di antara isinya menyebutkan nama sebuah bangunan suci yaitu Waharu
atau Warahu. Nama istilah inilah yang diduga sebagai asal nama Candi Brahu sekarang. Candi Brahu dipugar pada tahun
1990/1991 sampai dengan 1994/1995.
Dari reliefnya, candi ini adalah
gambaran sinkretisme keagamaan antara agama Hindu dan agama Budha, dan dengan
gambaran sinkretisme tersebut, hingga saat ini pemeliharaan Candi Brahu dilakukan oleh kedua agama
tersebut. Awalnya candi ini berfungsi sebagai tempat pembakaran raja-raja
Majapahit, namun asumsi tersebut tidak terbukti karena tidak ditemukannya
sisa–sisa abu pembakaran jenazah. Berbeda dengan ritual pemujaan pada situs
pemujaan lainnya, di sini aktifitas tersebut dilakukan hanya dengan cara
meletakkan sesaji pada bagian depan dan pintu candi yang menghadap ke arah
barat.
Gambar: Lokasi Candi Brahu
Meskipun tidak terbukti, menurut masyarakat sekitar Candi Brahu, candi ini dahulunya berfungsi sebagai tempat pembakaran jenasah dari Raja Brawijaya I sampai IV. Akan tetapi, hasil penelitian yang dilakukan terhadap Candi Brahu tersebut tidak menunjukkan adanya bekas-bekas abu atau mayat, karena bilik candi sekarang sudah kosong. Candi Brahu tidak berdiri sendiri, disekitarnya terdapat beberapa bangunan candi-candi lain, yaitu candi Gentong. Candi Gentong berjarak kurang lebih sekitar 360m dari Candi Brahu. Dan candi-candi lainnya ialah Candi Gedong dan Candi Tengah yang sekarang sudah tidak nampak lagi. Di sekitar Candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain :
- Benda-benda semisal perhiasan dari emas dan perak.
- 6 buah arca yang bersifat agama Budha.
- Piring perak yang bagian bawah bertuliskan tulisan kuno.
- 4 lempeng prasati tembaga pada masa Raja Mpu Sindok.
B. SEJARAH CANDI BRAHU
Candi Brahu merupakan salah satu
candi yang ada dalam lingkungan situs Trowulan Kerajaan Majapahit. Candi Brahu
sudah ada sebelum masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk bahkan diperkirakan juga
sudah ada sebelum masa Raja Brawijaya I. Dapat dikatakan bahwa Candi Brahu
merupakan candi yang paling tua dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang
ada di daerah situs Trowulan. Candi Brahu didirikan oleh Mpu Sindok yang
sebelumnya ia merupakan raja dari Kerajaan Mataram Kuno yang ada di Jawa
Tengah. Hal ini dijelaskan dari nama Brahu dihubungkan diperkirakan berasal
dari kata 'Wanaru' atau 'Warahu', yaitu nama sebuah bangunan suci keagamaan
yang disebutkan di dalam prasasti tembaga 'Alasantan' yang ditemukan kira-kira
45 meter disebelah barat Candi Brahu.
Prasasti ini dibuat pada tahun 861 Saka atau, tepatnya, 9 September 939 M atas
perintah Raja Mpu Sindok dari Kahuripan. Dari penuturan prasasti itu dijelaskan
bahwa Candi Brahu yang didirikan oleh masa Mpu Sindok ialah candi yang usianya
lebih tua dibanding candi-candi lain bahkan lebih tua dari Kerajaan Majapahit.
Pada masa Kerajaan Majapahit, Candi Brahu digunakan sebagai tempat
persembayangan atau merupakan bangunan suci yang digunakan untuk berdoa.Hal ini
dapat dilihat dari temuan-temuan yang berada di candi tersebut seperti beberapa
benda yang kerap menjadi alat-alat upacara keagamaan seperti alat-alat upacara
dari logam.
Gambar : Candi Brahu
Menurut beberapa penelitian, Candi Brahu dinyatakan sebagai candi agama Budha. Anggapan ini muncul karena candi Brahu memiliki stupa yang kerapnya menjadi ciri-ciri bagi candi agama Budha. Selain itu bentuk dari Candi Brahu yang lebih berbeda dibanding candi-candi lain di situs Trowulan Kerajaan Majapahit, bentuk tubuh Candi Brahu tidak tegas persegi melainkan bersudut banyak, tumpul dan berlekuk. Bagian tengah tubuhnya melekuk ke dalam seperti pinggang. Lekukan tersebut dipertegas dengan pola susunan batu bata pada dinding barat atau dinding depan candi.
Atap candi juga tidak berbentuk berbentuk prisma bersusun atau segi empat, melainkan bersudut banyak dengan puncak datar, hal tersebut memunculkan anggapan bahwa Candi Brahu didirikan bukan pada masa kerajaan Majapahit, melainkan merupakan bangunan candi yang dibangun sebelum Kerajaan Majapahit. Selain itu anggapan lain yang menerangkan bahwa Candi Brahu merupakan candi agama Budha ialah penemuan beberapa benda-benda kuno. Disekitar kompleks candi Brahu pernah ditemukan benda-benda kuno, antara lain alat upacara dari logam, perhiasan dan benda-benda dari emas, dan arca-arca logam di mana hal tersebut menunjukkan adanya cirri-ciri agama Budha. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa candi Brahu merupakan candi Budha .
C. KEHIDUPAN SOSIAL MASYARAKAT SEKITAR CANDI
Pemukiman terpencar-pencar di lembah-lembah sungai ataupun pegunungan-pegunungan.
Tempat-tempat tersebut masih sedikit penduduknya,maka banyak
masyarakat-masyarakat desa yang memiliki hutan dan tanah persawahan yang
luas.Tanah yang dimiliki oleh para rakyat kebanyakan atau golongan bangsawan
biasa atau golongan bangsawan agama. Dari situlah tumbuh masyarakat seperti
masyarakat lingkungan yang meninggali wilayah yang berdekatan dengan bangunan
suci seperti candi yang terdapat golongan agamawan yang disekelilingnya
masyarakat sekitanya bekerja sebagai tani.
Kehidupan sosial masyarakat sekitar Candi Brahu pada waktu itu kurang lebih sama seperti daerah kehidupan sosial masyarakat sekitar peninggalan candi yang lainnya di situs Trowulan. Kehidupan masyarakat sekitar Candi Brahu tak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat pada perkembangan kerajaan Majapahit, walau Candi Brahu dimungkinkan berdiri sebelum Kerajaan Majapahit itu sendiri. Masyarakat di sekitar Candi Brahu sangat menginternal sekali, di dalam diri mereka kebudayaan serta keahlian para leluhurnya sangatlahdihargai dan mereka terus lestarikan sesuai tradisi yang ada. Dengan adanya regenerisasi kebudayaan tersebut mencerminkan bahwa masyarakat sekitar Candi Brahu sangat menghargai,menghormati, peduli serta menjunjung tinggi terhadap kebudayaan leluhur mereka.
Sebagai lingkungan candi yang dipergunakan sebagai tempat keagamaan, lingkungan sekitar Candi Brahu menjadi lingkungan yang menumbuhkan masyarakat yang sadar betul akan kehidupan beragama. Di lingkungan Candi Brahu ada pula lingkungan kaum agama yang biasa hidup berkelompok di sekitar bangunan agama, seperti mandala, dharma, sima, wihara dan sebagainya.Pada umumnya mandala memperoleh kebebasan yang luas.Mereka dinyatakan bebas dari pembayaran pajak dan hanya diwajibkan membayar beberapa yang memang sudah lazim.Mereka berada dibawah kekuasaaan pendeta tertinggi, bebas dari campur tangan raja dan bebas dari kewajiban pemilik tanah sekuler. Sama seperti halnya Candi Brahu yang dinyatakan sebagai tempat pendarmaan raja Brawijaya yang jelas merupakan bangunan suci keagaaman dan tentunya mendapat asuhan dari para pendeta yang berada di mandala.Hal itu membuktikan bahwa adanya lingkungan yang ditempati kaum agamawan.
Ada pula kehidupan yang di bagi-bagi sesuai golongan menurut pekerjaan dari penduduk desa, seperti golongan keluarga tani bebas (rama) dan anggota komunitas biasa (dapur) yang diperintah oleh para pengetua(buyut). Dapur ialah bentuk kelompok masyarakat asli yang tertua dan penduduknya ialah apa yang dinamakan kulina, yaitu para masyarakat dari keluarga petani kuno, penduduk asli daerah dan anak keturunan cikal-bakal desa. Mereka merupakan penduduk asli desa.
Kebanyakan profesi masyarakat desa ialah menjadi petani yang dimana petani terbagi menjadi beberapa golongan diantaranya petani yang menggarap tanah sendiri atau milik tuan tanah atau dan buruh tani. Didaerah kaum agamawan, para bangsawan menyuruh budak-budak untuk mengolah tanah mereka dan memungut panennya, sebagian pengolahan tanah dan panen diserahkan kepada pekerja dari masyarakat desa yang ada didekatnya, dan juga para kaum agamawan.Para pekerja itu dibayar dengan sebagian dari hasil panen yang ditetapkan menurut adat.

